Sejarah bengawan solo purba di pulau jawa

Bengawan solo adalah sebuah sungi terpanjang dan terbesar di pulau jawa. Arti kata bengawan yaitu sungai besar, Solo (Sala) nama sebuah desa di wilayah karesidenan Surakarta. Pemberian nama Solo menggunakan nama desa yang terkenal pada zaman kerajaan pajang, yaitu desa Sala. Yang kelak menjadi pusat kerajaan baru yaitu Surakarta.

Sungai terpanjang di Jawa ini saat ini berhulu di Wonogiri dan bermuara di Gresik Surabaya. Jarang masyarakat yang mengetahui jika pada masa purba jutaan tahun lalu, Bengawan Solo Purba bermuara ke pantai Selatan Gunungkidul, yakni Pantai Sadeng, Kecamatan Girisubo, Gunungkidul.

Perubahan aliran sungai ini karena adanya pengangkatan tektonik. Jejak Bengawan Solo Purba adalah jajaran perbukitan karst yang kini masuk sebagai Geopark Gunung Sewu Network oleh UNESCO pada tahun 2015 pada konfrensi Asia Pasific Global Network di Sanin, Kaigan, Jepang. Dari pantauan akhir pekan lalu, lembah sungai Bengawan Solo Purba yang tepat berada pinggir jalan menuju Pantai Sadeng tampak asri dengan di dasarnya terdapat tanaman perkebunan warga.

Dinas Pariwisata Gunungkidul berencana membuat lokasi menjadi obyek wisata minat khusus bidang pendidikan. Sebab, di sekitar wilayah Kecamatan Girisubo dan Rongkop banyak lokasi yang bisa dijadikan penelitian ataupun pelajaran sejarah mengenai kehidupan purbakala. Wisata edukasi bisa memanfaatkan papan yang sudah terpasang, dan melalui literatur yang ada terkait perkembangan pembentukan Pulau Jawa.

Pada zaman Tersier sekitar kala Meiosen, lempeng Australia masuk ke dalam lempeng Eurasia, dan membuntuk zona penunjaman. Hal ini mengakibatkan lempeng Eurasia naik ke permukaan, dan mengangkat dasar laut ke permukaan. Salah satunya yang masih bisa dilihat ialah kawasan Gunung Sewu, yang membentang dari Kabupaten Gunungkidul, DIY; Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah; sampai Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Pengangkatan ini mengakibatkan berubahnya aliran Bengawan Solo Purba dan menyisakan bekas aliran sepanjang 30 km, dan membentuk cekungan di beberapa titik. “Di sana bisa digunakan penelitian, tidak hanya di Bengawan Solo Purba, tak jauh dari lokasi juga ada Goa Braholo yang dihuni manusia purba. Sangat menarik jika ingin belajar mengenai kehidupan pra sejarah

Berdasarkan hasil penelitian kehidupan manusia purba yang sebelumnya, wilayah yang teridentifikasi teras purba Bengawan Solo memiliki riwayat penemuan yang menakjubkan. Banyak fosil-fosil yang ditemukan diwilayah sepanjang teras Sungai Bengawan Solo ini. Seperti penemuan tengkorak dan tulang Homo erectus serta penemuan rangka utuh gajah purba.

Wilayah-wilayah penemuan tersebut antara lain Sangiran, Sambungmacan, Cemeng, Trinil, Selopuro, dan Ngandong. Penemuan fosil tengkorak di wilayah Sambungmacan, Trinil dan Ngandong merupakan salah satu bukti peradaban manusia di wilayah aliran sungai.

Pertanggalan dari temuan-temuan yang didapatkan menunjukan bahwa Homo erectus yang mendiami wilayah ini lebih muda (Progresif) dibandingkan dengan Homo erectus yang tinggal di Sangiran (Arkaik dan Tipik). Bukti tersebut menunjukan adanya pergeseran hunian Homo erectus di kearah hilir Sungai Bengawan Solo.

Sejak tahun 2012 sampai tahun 2014, BPSMP Sangiran bekerja sama dengan Puslit Arkenas melakukan kajian manusia purba sepanjang DAS Bengawan Solo. Berdasarkan survey yang telah dilakukan, mulai dari Medalem sampai Ngandong telah teridentifikasi sebanyak 41 teras purba yang berpotensi mengandung temuan arkeologi terutama fosil dan artefak.

Selain survei, dilakukan pula kegiatan ekskavasi di Situs Matar yang letaknya diseberang Situs Ngandong. Hasil kajian yang didapat, di situs ini menemukan banyak artefak dan fosil fauna namun belum ditemukan fosil manusia. Seluruh hasil kajian ini akan menambah pengetahuan dan informasi tentang manusia purba di sepanjang aliran hilir Bengawan Solo.

BAGIAN-BAGIAN BENGAWAN SOLO

Bengawan Solo Purba
Dahulu aliran sungai Bengawan Solo ini keselatan dan sekarang mengalir ke utara. Perubahan aliran sungai bengawan solo ini diperkirakan terjadi sekitar 2 atau paling tidak sejuta tahun lalu. Coba tengok gambar ini yang menujukkan sungai purba Bengawan Solo yang sudah menjadi sebuah lembah yang berkelok-kelok.

Aliran Bengawan Solo masa kini terbentuk kira-kira empat juta tahun yang lalu. Sebelumnya terdapat aliran sungai yang mengalir ke selatan, diduga dari hulu yang sama dengan sungai yang sekarang. Karena proses pengangkatan geologis akibat desakan lempeng Indo-Australia yang mendesak daratan Jawa, aliran sungai itu beralih ke utara.[7] Pantai Sadeng di bagian tenggara Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal sebagai “muara” Bengawan Solo Purba.[8]
Daerah Hulu

Daerah ini mayoritas meliputi daerah Hulu Kali Tenggar, Hulu Kali Muning, Hulu Waduk Gajah Mungkur serta sebagian Kabupaten Wonogiri dengan penampang sungai yang berbentuk V. Vegetasi pada daerah ini didominasi oleh tumbuhan akasia. Aktivitas yang banyak dilakukan di dareah ini adalah pertanian, seperti padi dan kacang tanah. Dinding sungai pada daerah ini rata-rata bertebing curam dan tinggi. Karena banyak digunakan untuk pertanian, daerah sekitar sungai pada bagian ini banyak mengalami erosi dan sedimentasi yang cukup tinggi.

Daerah tengah

Daerah ini mayoritas meliputi daerah Hilir Waduk Gajah Mungkur, sebagian Kabupaten Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Solo, Sragen, sebagian Kabupaten Ngawi dan sebagian Tempuran (hilir) Kali Madiun (Bengawan Madiun). Selain itu daerah ini merupakan daerah yang padat penduduk. Pada umumnya kegiatan ekonomi di daerah bagian sungai ini lebih tinggi daripada bagian hulu dan hilir, dan didominasi oleh kegiatan industri. Akibatnya, banyak limbah yang masuk ke sungai dan mencemari vegetasi di daerah ini. Aktivitas masyarakat yang paling menonjol di daerah ini adalah pertanian, pemanfaatan air sebagai kebutuhan sehari-hari, peternakan dan industri.

Daerah Hilir

Daerah ini meliputi daerah sebagian Tempuran (hilir) Kali Madiun, sebagian kabupaten Ngawi, Blora, Bojonegoro, Lamongan, Tuban dan berakhir di Desa Ujungpangkah, Gresik[9].
Delta Pangkah merupakan salah satu hasil modifikasi sungai Bengawan Solo di bagian hilir. Salah satu tujuan dimodifikasinya bagian hilir dari Bengawan Solo ini adalah untuk mengindari pendangkalan di selat Madura.

Delta Sungai Bengawan Solo berada di daerah Sedayu wilayah kabupaten Gresik. Pada Delta ini sengaja dibuat kanal oleh manusia, tepatnya sejak zaman Hindia Belanda. Delta Bengawan Solo ini menghasilkan sedimentasi sebanyak 17 juta ton lumpur per tahun. Delta Pangkah merupakan hasil modifikasi sungai Bengawan Solo di bagian hilir.

Salah satu tujuan dimodifikasinya bagian hilir dari Bengawan Solo ini adalah untuk mengindari pendangkalan di selat Madura. Endapan dibawa oleh aliran Bengawan Solo dari ujung hingga hilir. Delta buatan yang merupakan hasil rekayasa yang berada di sebelah utara kota Gresik. Salah satu tujuan dimodifikasinya bagian hilir dari Bengawan Solo ini adalah untuk mengindari pendangkalan di selat Madura. Delta tersebut bernama Delta Pangkah karena berada di wilayah administratif Desa Ujung Pangkah.

Bendungan Gajah Mungkur

Waduk Gajah Mungkur berada 3 KM di sebelah selatan Kota kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Bendungan atau waduk ini dibangun mulai tahun 1970-an dan mulai beroperasi pada tahun 1978. Waduk dengan wilayah luas genangan kurang lebih 8800 ha. Beberapa fungsi dari waduk ini antara lain : untuk mengairi sawah seluas 24 000 ha di daerah Sukoharjo, Klaten, Karanganyar hingga ke Sragen. Selain itu juga untuk memasok air minum Kota Wonogiri. Fungsi lainnya adlah menghasilkan listrik dari PLTA yang awalnya di design untuk sebesar 12,4 MegaWatt.

Waduk yang didesign berusia 100 tahun ini ternyata mengalami pendangkalan yang sangat cepat. Sehingga usia waduk ini menjadi lebih pendek dari yang diperkirakan sebelumnya. Pendangkalan ini sangat mungkin merupakan akibat dari kesalahan dari pemeliharaan. Ketika sebuah waduk dibuat, maka tentu saja akses ke jalan-jalan disini semakin berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *